Live Review: Huruhara Vol. 3

dscf3730
John Paul Patton (KPR). Foto oleh: Bayu Pradhana

Rabu (5/4) silam sekitar pukul 8 malam, pintu masuk Eastern Promise, Kemang, Jakarta dipenuhi pemuda-pemuda yang mayoritas berkaos hitam. Mereka menunggu terbukanya pintu Eastern Promise, yang merupakan tempat penyelenggaraan acara Huruhara Vol. 3. Kali ini, Berita Angkasa dan Kelompok Penerbang Roket (KPR) mengajak sekelompok orang tua yang menamai diri sebagai Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR). Sebuah band bergenre komedi, yang selalu bisa membuat penonton bergoyang dan ikut bernyanyi.

Sekitar pukul 20:40, pintu Eastern Promise mulai dibuka seiring bertambahnya massa yang semakin bertambah—padahal pada flyer dikatakan bahwa open gate dilakukan pukul 8 malam. Disengaja? Bisa saja, mengingat orang Indonesia erat kaitannya dengan “jam karet”.

Si empunya acara pun naik ke atas panggung satu-persatu ketika MC selesai dengan tugasnya. Dimulai dari Viki (drum), lalu disusul Coki (bass/vokal), dan yang terakhir Rey (gitar). Intro pun mulai berkumandang dan disusul lagu pamungkas pembangkit amarah, “Anjing Jalanan”. Penonton mulai bergoyang kesana-kemari, melakukan stage diving, dan bernyanyi bersama.

Namun ada saja kesalahan teknis yang terjadi tanpa diduga-duga. Tetiba saja gitar Rey mati ketika lagu “Beringin Tua” baru saja dimulai. Dengan sigap, Coki dan Viki yang mengetahui hal itu terpaksa ber-improvisasi sembari menunggu gitar Rey kembali hidup. Selang beberapa lama, gitar kembali menyala dan KPR memulai kembali aksinya.

Lagu-lagu baru seperti “Loba” dan “Berita Angkasa” ikut serta dalam setlist mereka. Ada pula lagu yang jarang dan belum pernah mereka mainkan, seperti “Let’s Us Dance” dari album kedua mereka yang bertajuk HAAI, dan “Jimi Hendrikoes” yang merupakan lagu eceran mereka dan hanya tersedia dalam format kaset.

Seperti yang biasa dilakukan di acara Huruhara, menjelang lagu terakhir, KPR dan band tamunya harus bertukar satu lagu untuk dimainkan. Lagu “Malam Jum’at Kliwon” milik OM PMR menjadi pilihan KPR dan dibawakan dengan gaya rock khas KPR. Penampilan pun ditutup dengan lagu pamungkas lain dari album perdana Teriakan Bocah, “Mati Muda”.

Kini giliran Joni Iskandar cs yang membawa kesenangan ke Eastern Promise. Membuka penampilan mereka seperti biasa dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” bersama-sama, lalu disusul dengan lagu “Bintangku Bintangmu. Eastern Promise seketika menjadi tempat dangdutan dengan panggung yang mulai diisi tidak hanya para personel OM PMR, melainkan juga beberapa penonton yang berada di garda terdepan naik. Hal itu tentu membuat kesal beberapa penonton yang berada di barisan belakang dengan makian yang tertuju pada para penonton di atas panggung itu. Tapi acara tetap berjalan lancar, meski ada saja penonton yang harus rela kehilangan handphonenya.

Lagu “Dimana Merdeka” menjadi pilihan OM PMR dan diubahnya menjadi versi dangdut khas mereka. Semua penonton menikmati termasuk para personil KPR itu sendiri. Di penghujung penampilannya, lagu “Judul-Judulan” menutup perjumpaan rock dan dangdut pada malam hari itu.

Sebuah malam yang panjang dengan wajah puas dari para penonton yang hadir saat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s